SUARA PEMBARUAN DAILY

Sajak S Yoga

Mantra

bukan maksudku untuk membuka tabir

atau mempertanyakan takdir

kasihmu seberapa jauh harus kuukur

ketika duka dan kesedihan tak bisa dihitung

lenyaplah segala sesuatu yang tak berwujud

kembalilah kepada batu hitam yang tenggelam

di dasar kali

berserakan bersama pasir dan hanyut dibawa

gelombang

Situbondo, 2008

Di Meja Makan

kita berdua duduk di meja makan

kau minta hidangan yang paling istimewa

sambil menatap mataku tajam-tajam

seolah ada sesuatu yang kurahasiakan

di meja makan kita selalu berharap pada usia

agar tertata sendok dan garpu di tempatnya

angin berhembus seperti ada suara yang hilang

kita diam terpaku sambil mencicipi hidangan terakhir

Ngawi, 2008

*

Negeri Kabut

di negeri kabut

aku berjalan menyusuri lembah merah

rumput-rumput menyapaku dengan air mata

kupu-kupu berterbangan mengitari jalanku

pohon-pohon menjulang melambaikan tangan

kelamnya

Situbondo, 2008

*

Cahaya

hitam malam menjelmakan bayanganku

seolah karang tua di pantaimu

di atas pasir aku karam dalam gelombang lautmu

namun aku menjadi api di dalam diri

yang akan membakar semua cahaya

Situbondo, 2008

*

Tamu

di antara lonceng gereja dan dentang jam duabelas

tamu-tamu telah pulang dengan jaket tebal

dan senapan

di antara jalan penuh api dan dentuman meriam

aku lebih lihai dari bidik dan tatapanmu, bisikmu

Situbondo, 2008

Isyarat

bunyi genting diterpa hujan

bunyi air menetes dari ledeng

di tengah malam yang suwung

hanyalah isyarat waktu yang kau tunggu

Ngawi, 2008

Tangan

ingin kusempurnakan saja dalam kekosongan waktu

hati telah pedih memikirkan semua ini

pikiran telah perih menerjemahkan kegelapan

jantung telah letih berdetak terus menerus

kini setiap hari

aku berjalan-jalan dengan tanganku

pikiran ada di dalam genggaman tangan

aku ingin tanganku menjadi pemimpin selamanya

Situbondo, 2008

Di Hutan

di bawah sinar bulan purnama

nampak bayang-bayang menari-nari

di dalam hutan serigala melolong-lolong

kaki-kakinya gemeresik menginjak dahan kering

pohon-pohon menari-nari bersama sepoi angin

bunga-bunga bermekaran di antara embun

belalang mengerat rakus daun-daun

fajar hari suasana sepi hanya burung berkicau

Situbondo, 2008

*

Rumah

di rumah ini mimpiku terbang bersama sayap-sayap langit

kuikuti lelawar terbang ke gua-gua gelap tak bertepi

dan menantimu di malam-malam yang sepi

aku menjadi pengelana dalam mencari rindu

ketika kau dendangkan lagu malam

dan tuangkan anggur merah kesenyapan

batu-batu tumbuh di dalam dada

luka-luka telah menua dan memfosil

kerinduan apa yang tak bisa menyatu

Ngawi, 2008

*

Lamunan Malam

sebotol minuman tua dan lamunan malam

telah kutuangkan dalam pikiran

kenangan mulai terkuak timbul tenggelam

hujan telah reda teriakmu

kau terbahak pada mabuk yang pertama

pada sebentang jalan utara

utara yang tak pernah kau tahu

mana selatan dan arah ke rumah

rumah tua yang tak pernah kau singgahi

aku datang teriakmu

namun kembali lagi ke tempat asal

bunyi kentongan bertalu-talu kau merasa ada yang tercuri

atau mungkin ia pergi meninggalkan dirimu

aku ingin pulang, aku ingin pulang, teriaknya

namun kau tak pernah mendengar

Situbondo, 2008


Last modified: 2/5/08