
Oleh Adek Alwi
entara itu selesai makan. Berdiri, berjalan ke pintu. Sepatunya berderap-derap di lantai lepau. Tegak lagi, ia sesaki ambang pintu dengan badannya yang besar. Melihat ke jalan. Di bibirnya terselip rokok, di bawah kumis lebat serupa ijuk.
Dan tiba-tiba ia menengok ke arah kami, yang duduk berjajar di palanta lepau. Mula-mula diamatinya tas, kopor, rantang, bungkusan. Kemudian ibu, adik, lantas aku ditatapnya. Darahku tersirap. Matanya merah, besar. Membelalak, bak hendak keluar. Apakah dia tentara pemberontak, yang terlambat turun dari hutan? Bajunya pun lusuh. Pudar. Atau, tentara pemerintah?
Tak tahan bertatapan, aku menengok ke jalan yang terbentang di muka lepau. Perang saudara telah usai, tapi jalan lengang penuh lubang. Pasar di seberang jalan pun lengang. Memang bukan hari pekan. Kambing, juga ayam, berkeliaran di pelataran los yang menerowong ke belakang. Lembu merumput di halaman. Daun pisang, kerisik, melayang-layang dipermainkan angin. Debu bangkit dari pasar serta lubang-lubang di jalan mengubah udara menjadi cokelat. Adikku kembali merengek. "Mana, Bu? Mana busnya? Mengapa lama, Bu?"
"Sebentar lagi," kata ibu. "Mengantuk? Tidurlah dulu." Ibu meraih kepalanya, merebahkan ke pangkuan. Ibu kembali memanjangkan leher lalu melihat ke hilir. Bus yang kami tunggu belum tampak. Jalan terbentang lurus, mengecil di ujung bagai ekor tikus. Seekor burung bertengger di mangkuk kawat telepon di batang kapuk. Matahari mencorong. Di rimba belakang kampung di balik punggung kami siamang bersahutan, pertanda panas akan menjadi-jadi. Dan bus itu belum juga muncul!
Sudah sejak subuh kami menunggu. Bangun dini hari, mandi, bersalin pakaian rapi, bersuluh daun kelapa ke pasar lewat jalan kampung berumput berbatu-batu. Mak Sulan, adik lelaki ibu yang mengantar sudah pulang. Kami masih di sini. Menanti. Ah. Mestinya aku tak ikut tadi. Tinggal di rumah dengan nenek, kakek, kakak perempuan. Membaca. Atau main bola dengan kawan-kawan. Tapi...
"Lapar?" Ibu melirik, menyentuh bahu. Aku menggeleng. Aku memang belum lapar. Kami sudah makan subuh tadi dengan nasi dingin, bergegas, takut ketinggalan bus. "Bila kau haus di botol ada teh manis. Kue di bungkusan dalam kaleng," kata ibu.
"Ya." Pikiranku tetap ke bus. Kapan bus itu muncul? Sudah terang begini!
"Memang begini, Nak," kata ibu, seperti tahu kegalauanku. "Cuma dua bus ke kota, sore balik ke hilir. Eh, satu sudah lewat tadi kan? Ya, lainnya tentu tak lama lagi. Agaknya belum pukul sepuluh, bukan?"
"Ya."
Adikku telah lelap di pangkuan ibu. Ia masih kecil, lima tahun, belum sekolah. Aku delapan, hampir sembilan, kelas dua. Makanya aku ikut. Kasihan ibu, bawaannya banyak. Kopor, tas, bungkusan, rantang berisi pangek serta rendang untuk ayah. Dan aku juga rindu ayah. Sudah lima bulan ayah di kota. Usai perang ayah langsung pergi, berniaga kembali. Perang membuat orang tidak dapat ke mana-mana. Toko dan kedai tutup. Jalan rusak. Bus tak beroperasi. Tetapi selesai perang jalan tetap berlubang. Bus hanya dua ke kota. Satu sudah lewat, penuh. Satu lagi entah kapan. Sudah tengah hari begini!
Mestinya aku memang tak ikut saja tadi. Tetapi kasihan ibu. Ibu tambah kurus. Muka dan jarinya terlihat panjang. Dan aku juga ingin jumpa ayah. Melihat kota. Tiga bulan lalu aku turut ibu, kedai ayah sudah diperbaiki dan ayah tidur di belakang. Ada kamar, kamar mandi, listrik. Lampu listrik! Airnya ledeng. Subuh-subuh, antara lelap dan jaga aku berharap tak sedang di kampung. Kudengar suara mendengung. Listrik! Kubuka mata. Di sekelilingku benderang. Ibu bersimpuh di sajadah, wajahnya teduh, tersenyum kepadaku. "Cepat bangun, shalat dulu!" Semua jadi terang dan jelas oleh listrik. Membuatku bersemangat bangun dan membaca.
Juga ada kotak kecil segi empat, berwarna cokelat. Ditempatkan ayah di meja di luar kamar, di lorong menuju kedai. Di kotak itu terdengar orang bicara, berpidato, menyanyi: Bila anggrek mulai mekar... Mengherankan sekali!
"Apa ini, Yah?" kubilang.
"Radio." Ayah senyum, membarut kepalaku. Aku terpana. Lalu tersipu.
"Ya, baiknya begitu," kata ibu melihatku tersenyum. "Setiap waktu kita harus belajar sabar, Nak. Ada saja hikmahnya bila kita sabar."
Aku menoleh, menyenyumi ibu. Kata guru mengajiku pun begitu. Orang sabar disayang Tuhan. Tapi... ah. Mana bus itu? Belum juga bus itu muncul!
*
TENTARA itu melangkah ke jalan, berderap-derap. Aku melihat ke hilir, takut dia menatap lagi. Dari hilir seseorang mendatangi naik kereta-angin. Mulanya seperti titik, bergoyang-goyang dan terus membesar. Di muka pasar ia angkat tangan. Tentara itu membalas. Orang itu berhenti, turun dari sepeda, dan mereka lalu bercakap-cakap di tepi jalan.
Adikku masih lelap berbantal paha ibu. Keningnya berpeluh. Ibu mengipasnya dengan ujung selendang, menoleh lagi ke hilir. Bus tidak juga tampak. Jalan gersang. Lengang. Siamang bersahutan bak bergendang. Seekor anjing lari-lari di jalan, belok masuk pasar, loncat gesit ke pelataran los. Ayam dan kambing kaget, berlarian panik, berkotek-kotek. Anjing itu terus memburu, tapi tidak menerkam. Tampaknya ia hanya ingin bergelut, mungkin karena tidak berkawan. Aku tersenyum melihat ulahnya.
Dan pikiranku pergi lagi ke kota. Malam-malam tetap ramai di kota. Radio tak henti terdengar di kedai-kedai sebelah. Orang bercakap sampai larut. Tidak ada suara serangga, suara burung-burung malam. Di jalan depan kedai ayah oto tiap sebentar melintas. Orang lalu-lalang di trotoar. Suara kaki kuda bendi ketipak-ketipak di aspal jalan.
"Mau ke mana mereka, Yah?" tanyaku kepada ayah.
"Siapa?"
"Oto-oto itu. Orang-orang itu."
"O. Ke tujuan masing-masing. Semua orang punya tujuan," kata ayah.
"Bagaimana kalau tidak, Yah?"
"Eh, tentu seperti layang-layang putus. Terombang-ambing, dimainkan angin."
Itu jelas sangat buruk. Tidak dapat pulang, tidak dapat terbang. Bahkan hancur tidak karuan. "Ah aku tidak mau seperti layang-layang putus," aku bilang. "Tapi, aku tak tahu tujuanku, Yah."
Ayah tertawa. "Kau masih kecil," katanya. "Nanti kau tahu bila sudah besar."
"Tapi aku ingin punya buku banyak-banyak, Yah. Lalu membaca. Aku senang membaca diterangi lampu listrik. Mendengar radio juga. Di kampung tidak ada radio. Tak ada lampu listrik. Kapan kita pindah ke sini, Yah?"
"Ayah cari dulu rumah sewa, juga sekolah untuk kalian."
*
TIBA-tiba tentara itu sudah berdiri saja di depan kami. Aku terkejut, hampir-hampir terlonjak. Mau apa dia? Adikku menggeliat. Duduk. Ibu memeluknya, seperti melindungi. Siapa dia ini? Tentara pemerintah? Pemberontak? Ah, sama saja! Banyak kejadian buruk saat perang berlangsung. Rumah dibakar. Orang dipukul, ditempeleng, ditembak. Tapi perang sudah usai. Mau apa tentara ini? Ke mana-mana pun orang kini tak perlu surat jalan lagi. Mau apa dia?
"Ke kota?" dia bertanya. Suaranya besar, datar dan juga parau.
"Ya," jawab ibu. "Saya dan anak-anak."
"Mau mengapa ke kota?"
"Melihat ayah anak-anak."
"Hm. Tidak ada lagi bus ke kota. Bus rusak di Aie Sirah. Pernya patah!"
Ibu tertegun. Menengok ke hilir. Beralih memandang tentara itu. Satu tangan ibu masih merangkul adik. Dadaku berdebur-debur kencang.
"Baru saja kawan saya memberi tahu. Ia dari Aie Sirah. Bus itu tidak mungkin jalan hari ini. Saya mau ke hilir," tentara itu kembali berkata. Suaranya besar, parau.
Ibu mengangguk. Lalu diam, terpana.
"Penting benar ke kota?"
"Penting," sahut ibu lunak.
Tentara itu tak berkata lagi. Ia masih tegak di muka kami, lantas melangkah ke muka lepau sebelah. Berdiri di sana. Merokok. Asap rokoknya kepal-kepul. Mau apa dia? Benar tidak ada lagi bus? Matahari makin terik, berkilau. Aku yakin sudah lewat pukul sepuluh. Mungkin sebelas, atau lebih. Ibu tetap diam, seperti termenung. Wajah beliau teduh, namun matanya tidak. Adikku juga tidak merengek. Diam. Dadaku terus debur-debur.
Aku menengok ke hilir. Jalan lengang, lurus, mengecil di ujung bak ekor tikus. Burung itu tak tampak lagi di mangkuk putih kawat telepon. Lenyap, entah ke mana. Siamang masih bersahutan, berharap hujan di kelebatan rimba. Ah, apakah kami bakal pulang lagi, urung ke kota? Kenapa cuma dua bus ke kota? Perang sudah usai tapi bus cuma dua. Satu sudah lewat, satu lagi rusak. Kutoleh ibu. Ibu tetap diam. Matanya bak berkaca-kaca, tubuhnya terlihat ringkih. Adik meringkuk dalam pelukannya. Rasanya aku ingin marah, jengkel, dan juga sedih. Mataku terasa panas.
Aku alihkan mataku kembali ke hilir. Mendadak, kulihat bayang hitam, makin lama makin besar, serupa kotak. Bus? Lapat-lapat terdengar suara deruman. Ya. Bus! Itu bus! "Prahoto," bisik ibu. Prahoto? Kini kian jelas. Mendekat, dan terus mendekat.
Tentara itu bergerak, lalu tegak di tengah jalan. Prahoto berhenti. Besar sekali. Rumah-rumahannya di belakang berjerajak kayu, tertutup terpal. Tentara itu bercakap dengan sopir, juga stokar, kemudian dia berputar, mendekati kami. "Di belakang sopir ada bangku kosong. Ibu bisa ikut prahoto itu," dia bilang.
"Oh." Ibu tertegak. Mata beliau berkilau. "Terima kasih, Pak!" Wajah ibu pun terlihat teduh ketika berucap kepada kami: "Ayo Nak, kita lihat Ayah." Aku hendak mengangkat kopor, tapi stokar telah membawanya. Juga tas. Kuangkat saja bungkusan.
"Mereka hanya berhenti di Bukik Apik, menurunkan muatan. Mungkin petang Ibu baru sampai di kota," ujar tentara itu lagi.
"Oh tidak apa-apa, Pak!" Ibu berucap terima kasih sekali lagi, lalu naik, duduk di sebelah kami di bangku kayu di belakang sopir. Tentara itu tetap di bawah. Dia angkat tangannya ketika kami melongok. Kutatap matanya, kini tanpa takut, dan dia tersenyum. Giginya ternyata putih. Prahoto lalu menderum, bergerak bak merangkak. Tentu pula kami akan makan tengah hari di atasnya nanti, lalu tiba di kota senja hari. Tetapi lampu-lampu listrik tentu sudah dinyalakan, kota benderang serupa siang. Di radio terdengar kumandang lagu, juga berita, bahwa perang saudara telah berakhir, negeri akan aman selamanya. Aku menoleh kepada ibu, dan adik, lalu tersenyum.