
Oleh Diani Savitri
ku menanti Sekarini. Malam-malam bertaut, Sekarini belum juga kembali. Dalam sepi aku berteriak pada bulan yang muncul setengah hati. Mendakwanya menculik Sekarini. Menyekapnya agar bisa berpuas hati membaui tubuhnya yang wangi.
(Aku membenci bulan jahanam yang hanya bersolekan sisa terang matahari. Bulan hina yang pura-pura punya cahaya, padahal selamanya tubuhnya cuma batu dingin tak bernyawa. Meski, bisa jadi aku lebih hina dari dia, karena saat malam dan mataku tak kunjung mau terpejam, diam-diam aku nikmati sinarnya yang menerobos rengat genteng dan jendela rumah kontrakan kami yang berkaca kusam. Diam-diam kehilangan saat bulan jahanam malah enak-enak ketiduran dan sembunyi di tudung awan, sehingga mataku yang memburam tidak bisa mengenali benda dan rupa berjarak seuluran tangan.)
Andai Sekarini ada di sini, tentu dia yakini aku akan merenggutnya kembali, dari apa pun yang membawanya pergi.
*
Pada suatu malam tak berbintang, Sekarini kembali.
Malam itu, pasti sangat istimewa. Sekarini yang memilih mengencani malam sejak aku tertanam pada tempat tidur kami, malam itu urung pergi. Meski sapuan beragam warna sudah menghiasi wajahnya. Sekarini menyiapkan mi instan yang dia masak sendiri. Bau pengap rumah kontrakan beralas tanah lembap, berbaur aroma berlebihan bumbu penyedap. Sekarini muncul dari dapur yang lindap, sedikit berpeluh. Di tangannya mangkuk dengan pinggiran yang sudah bengkah, darinya keluar kepul. Telur bulat bermata satu mengapung dalam mangkuk penyaji. Sekarini menyuapiku, aku mengunyah kenikmatan itu satu demi satu.
Seselesainya menyendokkan suapan terakhir, tatap lekat Sekarini menerobos kelabu korneaku. Mas tiduran saja, bisiknya lembut di telinga. Mungkin ia lupa aku memang tak pernah lagi bisa ke mana-mana, dari satu siang panas menyaksikan aku dan motor ojekku dihantam kecelakaan yang melumas motor tua itu, menghancurkan kedua kakiku, dan melemahkan penglihatanku.
Lihat aku menari, merah bibirnya membisik.
(Aku tahu di desanya Sekarini handal menari Sarasvati, di mana ia menjelma angsa yang lincah menari di danaunya. Asyik dengan dirinya, menemani Sarasvati. Angsa Sekarini kesederhanaannya anggun, dan berpuas hati cukup hanya dari menyelami dirinya. Angsa penari yang niscaya membuat cemburu bahkan Sarasvati sang Devi sendiri.)
Malam ini pasti istimewa, bila Sekarini ingin menghadirkan angsa dalam dirinya kembali. Sekarini duduk di atasku setelah cekatan mempersiapkan aku untuknya. Pahanya hangat menjepit pinggangku. Aku mendapati diriku dijejalkan masuk dalam dirinya.
Dan ia menari. Setiap lenggoknya menggelegak penuh birahi. Aku bertanya-tanya, apa ini tarian Sekarini yang dibisikkan orang-orang bermata sekam, tetangga kiri kanan kami, sesama penghuni kampung sesak yang melipir melingkari kota. Apa ini tarian yang ditampilkan Sekarini dalam hangat gedung kecil di lorong padat yang meliuk di utara kota, yang diceritakan orang-orang berbau dendam pada mulutnya. Tarian aneh dari daerah tak bertuan, di mana perempuan bukan puan melainkan sekadar penjaja badan.
Hentikan, kataku lirih. Kata itu hilang ditingkahi nafas Sekarini yang mulai terengah. Mata Sekarini setengah terpejam. Tapi Sekarini terus menari. Tarian aneh, yang setiap geraknya membuat ranjang tua kami berderak. Dan kepalaku terasa seperti akan meledak. Gerakan dan mimik wajah Sekarini membuatku muak.
Aku kembali menggumam: Hentikan!
Pelupuk mata Sekarini bergetar-getar, pinggulnya menggeletar, dan tarian anehnya tidak juga mau berhenti. Membuatku kehilangan kendali. Tamparanku bertubi-tubi pada wajahnya memaksa kedua pelupuk mata terbuka membelalak bergenang pedih yang lalu mengalir.
Sejenak segala warna surut dari wajahnya. Dalam kabur pandang aku dapati wajah bening penari angsa sekilas terkuak dari tabir. Wajah bening Sekarini saat pertama kubawa pergi dari tanah dewata, diiringi tangis ibunya yang janda. Sekarini, itukah kau lagi? Kembali dari perjalananmu meniti malam-malam lebam, sejak aku tak mampu lagi menopang bahkan diriku sendiri?
Tapi malam membekukan kebeningan yang muncul dalam sekejap - segera saja kebeningan bersaput lagi pulasan warna riasan. Pada mana Sekarini sembunyi dari kegelapan malam. Merah dari darah yang merintik di sudut bibir membuat lukisan topeng Sekarini seperti seringai kesakitan orang yang dikhianati. Aku hanya mencoba membahagiakan Mas, gemetar bisiknya mencoba memberi makna. Kepalaku yang terlanjur ditinggalkan akal di dalamnya tidak dapat mencerna bunyi - bisikannya menjadi tanpa arti. Bagaimana ini bisa bermakna. Saat Sekarini sang angsa, di hadapanku menjelma jadi sekadar betina pelega hasrat raga? Menggelegak dan bergerak tapi tanpa nyawa?
Denganku Sekarini mencoba bercinta, tapi nyatanya ia hanya bisa memperkosa jiwa.
*
Sekarini semakin sering menghilang di malam hari. Ia hanya kembali saat jelang pagi.
Sekarini masih di sini, menyuapi. Menyodorkan gelas hingga tepian air mencapai bibirku. Menggosokkan handuk lembap pada tubuhku pengganti gebyur air mandi. Menggantikan baju. Membantu buang air. Tapi tidak lagi ia merabai punggungku waktu malam, saat rasa gatal menyerang punggung karena seharian telentang di ranjang. Kami tidak lagi tidur berdampingan. Ia memilih meringkuk di dipan teras depan, sesegera ia menyelinap masuk rumah kontrakan kami pagi hari dan membersihkan diri. Mengistirahatkan tubuhnya setelah perjalanannya bersama malam.
Pada bulan aku tak lagi curiga. Pada matahari, aku mulai merasa iri hati.
Apa sinarnya begitu hangat menungkupi tubuh Sekarini, yang tergolek pulas setiap siang di dipan panjang teras depan? Apa Sekarini menikmati kehangatan itu? Membiarkan setiap kecil pori tubuhnya menganga, menyesap tiap butir kehangatan itu? Apa itu yang membuat Sekarini kembali berparas ranum berseri, dalam tidurnya di siang hari?
(Aku membenci matahari, yang hangatnya menyetubuhi Sekarini. Matahari beringas yang memasukinya begitu dalam, membuat Sekarini menyala di siang hari. Meski cemburu, diam-diam aku menikmatinya. Menikmati wajah Sekarini di pagi hari tanpa dicemari pewarna yang dijual toko-toko. Sekarini menangkap sinar keemasan matahari pagi dalam tidurnya. Menyematkannya di pipi, bibir, mata. Diam-diam, aku bisa kembali menikmati indah Sekarini - angsa perawan yang memulai tidurnya di subuh hari.)
Sekarini tidak pernah lagi mencoba menari di atas tubuhku. Kebersamaan kami adalah ketiadaan bunyi, memerangkap aku dalam kegelisahan bila berusaha mencari arti.
Sekarini kembali, tapi tidak pernah benar-benar berada di sini.
*
Sekarini menelan matahari. Perutnya menggelembung suatu hari, bulatnya terasa menekan dadaku hanya dengan melihatnya.
Aku tidak mencoba percaya, saat getar suaranya mengembik minta dipercaya. Lihat, kita akan segera punya bayi. Ini akan jadi putra perkasa seperti ayahnya, sampai Sekarini lirih seperti mengucap doa. Aku menjangkau apa yang ada dekatku sekenanya. Melemparnya sejauh kubisa. Gelas berbibir sumbing pecah berantakan pada dinding berplester kusam. Aku memang pembidik yang payah. Luput beling bening itu mencabik topeng wajah Sekarini.
Beraninya dia mendusta bahwa aku masih mampu berputera.
Aku meraung tanpa suara. Hanya kepedihan yang bergaung dalam dada. Kedua sayap Sekarini seperti terobek darinya. Angsa putih terluka, ia duduk teronggok di sudut kamar, lehernya terkulai. Dari matanya menganak telaga. Mulutnya terbuka. Yang lalu keluar dari kerongkongannya adalah suara nyawa yang ter- belah. Sekarini tidak hanya membunuh angsa yang dulu adalah ia, tapi juga dibiarkannya gerhana tumbuh dalam dirinya.
*
Anak itu adalah anak matahari. Aku dengar ceritanya kemudian, dari penduduk kampung kami. Dendam di mulut mereka beralih wujud jadi kasihan. Dan sedikit pengertian. Kulitnya terang seperti percik sinar mentari yang menjamahi kelopak seruni. Matanya mantap menatap pagi. Jemari mungilnya kekar mencengkeram tangan pertama yang mengangkat tubuhnya.
Anak itu anak matahari. Ibunya gundik malam, ayahnya buta hanya bisa memandangi kelam. Ibunya berhati pualam, tapi ayahnya berhati kejam dan meniadakan kehadiran mereka, anak tampan rupawan dan ibunya yang gundik malam.
Aku tentu saja tidak pernah melihatnya. Aku tidak akan pernah bisa melihatnya, meski dengan kulit jemariku yang semakin pandai mengenali rupa orang dan barang, seperti bersalinguna dengan mataku yang kian membuta. Mereka tidak membiarkanku menyentuhnya. Mereka membawanya pergi, begitu Sekarini mendorongnya keluar dari tubuh gemetarnya diiringi erangan kesakitan. Erangan ketidakrelaan. Mendengar jeritan panjang, tapi tertahan Sekarini dari kamarku, aku merasakan kesakitan di dadanya lebih dari di jalan lahirnya. Kesakitan yang tidak bakal terobati oleh tumpukan kertas uang yang disusun di sisi tubuh lemah Sekarini, menggantikan sang bayi.
Sekarini tertatih menghampiriku. Segala warna memudar dari wajahnya, muka dasternya basah oleh keringat kepedihan dan air susu yang mengalir tak terisap. Parau suaranya membisik: Sekarang hanya kita berdua. Mas akan berobat, aku akan jadi guru tari, kita akan baik kembali.
(Mulai itu hingga selamanya aku ketakutan. Berpikir bahwa aku menulari Sekarini kebutaan. Ya. Tentunya, hanya dalam kebutaan hati Sekarini mampu menukar matahari, dengan entah apa yang disangkanya akan membuatku utuh kembali. Sekarini mengusir pergi matahari, ia sendiri lebih nyaman dalam gelap malam.)
Tangan gemetar Sekarini terulur padaku, mengharapkan pegangan. Aku yang terenggut dalam keniskalaan. Sekarini terbaring di sisiku bersebelahan, tapi sesungguhnya ia sudah benar-benar hilang. *