sepanjang aku menyeberangi wangi
sekian lamanya mengamat-amati melati
yang putih terhampar luas di pematang
hatiku berbunga-bunga semerbak aromanya
pada nama yang disandangnya, melati
mungkin kita dapat bercermin di sini
dari kehadirannya yang seperti mengalir
begitu saja tanpa ada beban apa-apa
yang sepintas akan dapat membekas
tetap pada keharuman terjaga
senyum tuluslah yang selalu kita berikan
setiap menyeberangi wangi melati, keharuan
*
kutulis sajak
penuh bunga, rasa sayang
mekar merekah pada dada
keharuman tetap terjaga
raih wangi di hati nurani
petiklah dari pengertianmu kini
melati paling putih
*
terasa setiap detik aku memetik melati
yang bermekaran sepanjang penghayatan sejati
hingga tetap ada kehidupan berkembang
perbarui wangi yang telah kita seberangi
dipetiknya satu melati, seperti tanyamu selama ini
tentang pematang kasih sayang, betapa butuh
sungguh
bagi bakti anakmu akan lanjutkan keturunan
maka terimalah seperangkat jawab yang tulus
curahan pengaduan di pangkuanmu, Ibu
telah tiba saatnya, aku bawakan kekasih
yang melati, hingga sampai dipetiknya kini
bagai dirimu, Ibu, mampu mempertahankan
keharuman
*
Menghayati Melati
menghayati melati akan jadi dapat berarti
bila aku telah pilih seorang kekasih yang melati
hingga pada kepastiannya kusunting kini
dalam perjalanan, kau dan aku saling mengenali
betapa banyak pengertian yang mesti digali
dari prosesi keadaan paling dapat menyadari
sampai kita mulai bertekad pada pilihan mantap
telah tiba saatnya jadi sepasang pengantin
berjanji sehidup-semati bersama kita selamanya
cinta kasih sayang sebagai pasangan sejati
dilingkari diri kita masing-masing dengan melati
bukti khatamnya menghayati melati paling putih
*
Pengantin Melati
tangan terayun seiring gelanyut embun
begitu lembut menjemput sepasang insan
pengantin melati yang kini tersunting
menghirup segar udara begitu sejuk
dada yang selalu pasrah lapang
singgahlah, jiwa-jiwa yang lelah
sampai bersama menyemai rasa damai
memelihara suka cita yang berkasih sayang
laku batin begitu ceria berdendang
mengikuti syahdu hidup seputih melati
musim dingin abadi bagi pengantin melati
yang selalu mekar berbunga setiap hari
menghayati semua berkah tercurah
berbagi wangi restu bumi langit
menebar kharisma pesona sorga dunia
*
Notasi, 1
: mawar-melati bagi istriku, Wanti Asmariyani
Hari-hari yang mengalir
Aku bergulat debu dan menguras pikir
Kegelisahan hidupku tiada akhir
Muara, di mana aku akan menuju
Dengan langkah yang memberat
Diseret hasrat dan kemudian deras bergerak
Ke arahmu yang mengandung rindu
Tapi aku tersekat jarak dan tak mampu lagi
Memahat pusaran waktu yang berurat batu
Kota tak lagi menyediakan ruang
Untuk kita sekadar saling berpandangan
Meski sedetik, hanya mawar-melati yang masih
Tertancap pada detak hidup kita bersama
tetap semangat merangkaki hari demi hari
Yang terus mengalir hingga ke muara
Tempat kita bisa istirah dan meredam amarah
Dalam badai kehidupan tak berkesudahan
Notasi, 2
: secarik kertas bagi anakku yang akan lahir
Hari-hari yang berganti
Adalah menanti, kita senantiasa berjaga
Dalam setiap nafas penuh pengharapan
Kapan tiba waktunya, betapa aku telah
Telanjur hanyut dalam gelanyut lamunan
Menginginkan segala keindahan tercurah
Saat tangis bayi pertama pecah
Adalah sebuah tangis yang kita rindukan
Bukan tangis karena duka yang menyeruak
Derita, tapi kebahagiaan yang menepi
Ke sisi hidup kita, dan siapkan pena untuk menulis
Kertas putih-bersih bagi anak kita yang akan lahir
Dari hari demi hari yang terus berganti
Tiada henti kita menanti-nanti