SUARA PEMBARUAN DAILY

Sajak Akhmad Sekhu

Menyeberangi Wangi

sepanjang aku menyeberangi wangi

sekian lamanya mengamat-amati melati

yang putih terhampar luas di pematang

hatiku berbunga-bunga semerbak aromanya

pada nama yang disandangnya, melati

mungkin kita dapat bercermin di sini

dari kehadirannya yang seperti mengalir

begitu saja tanpa ada beban apa-apa

yang sepintas akan dapat membekas

tetap pada keharuman terjaga

senyum tuluslah yang selalu kita berikan

setiap menyeberangi wangi melati, keharuan

*

Sajak Putih

kutulis sajak

penuh bunga, rasa sayang

mekar merekah pada dada

keharuman tetap terjaga

raih wangi di hati nurani

petiklah dari pengertianmu kini

melati paling putih

*

Memetik Melati

terasa setiap detik aku memetik melati

yang bermekaran sepanjang penghayatan sejati

hingga tetap ada kehidupan berkembang

perbarui wangi yang telah kita seberangi

dipetiknya satu melati, seperti tanyamu selama ini

tentang pematang kasih sayang, betapa butuh

sungguh

bagi bakti anakmu akan lanjutkan keturunan

maka terimalah seperangkat jawab yang tulus

curahan pengaduan di pangkuanmu, Ibu

telah tiba saatnya, aku bawakan kekasih

yang melati, hingga sampai dipetiknya kini

bagai dirimu, Ibu, mampu mempertahankan

keharuman

*

Menghayati Melati

menghayati melati akan jadi dapat berarti

bila aku telah pilih seorang kekasih yang melati

hingga pada kepastiannya kusunting kini

dalam perjalanan, kau dan aku saling mengenali

betapa banyak pengertian yang mesti digali

dari prosesi keadaan paling dapat menyadari

sampai kita mulai bertekad pada pilihan mantap

telah tiba saatnya jadi sepasang pengantin

berjanji sehidup-semati bersama kita selamanya

cinta kasih sayang sebagai pasangan sejati

dilingkari diri kita masing-masing dengan melati

bukti khatamnya menghayati melati paling putih

*

Pengantin Melati

tangan terayun seiring gelanyut embun

begitu lembut menjemput sepasang insan

pengantin melati yang kini tersunting

menghirup segar udara begitu sejuk

dada yang selalu pasrah lapang

singgahlah, jiwa-jiwa yang lelah

sampai bersama menyemai rasa damai

memelihara suka cita yang berkasih sayang

laku batin begitu ceria berdendang

mengikuti syahdu hidup seputih melati

musim dingin abadi bagi pengantin melati

yang selalu mekar berbunga setiap hari

menghayati semua berkah tercurah

berbagi wangi restu bumi langit

menebar kharisma pesona sorga dunia

*

Kasidah Penantian Kelahiran

Notasi, 1

: mawar-melati bagi istriku, Wanti Asmariyani

Hari-hari yang mengalir

Aku bergulat debu dan menguras pikir

Kegelisahan hidupku tiada akhir

Muara, di mana aku akan menuju

Dengan langkah yang memberat

Diseret hasrat dan kemudian deras bergerak

Ke arahmu yang mengandung rindu

Tapi aku tersekat jarak dan tak mampu lagi

Memahat pusaran waktu yang berurat batu

Kota tak lagi menyediakan ruang

Untuk kita sekadar saling berpandangan

Meski sedetik, hanya mawar-melati yang masih

Tertancap pada detak hidup kita bersama

tetap semangat merangkaki hari demi hari

Yang terus mengalir hingga ke muara

Tempat kita bisa istirah dan meredam amarah

Dalam badai kehidupan tak berkesudahan

Notasi, 2

: secarik kertas bagi anakku yang akan lahir

Hari-hari yang berganti

Adalah menanti, kita senantiasa berjaga

Dalam setiap nafas penuh pengharapan

Kapan tiba waktunya, betapa aku telah

Telanjur hanyut dalam gelanyut lamunan

Menginginkan segala keindahan tercurah

Saat tangis bayi pertama pecah

Adalah sebuah tangis yang kita rindukan

Bukan tangis karena duka yang menyeruak

Derita, tapi kebahagiaan yang menepi

Ke sisi hidup kita, dan siapkan pena untuk menulis

Kertas putih-bersih bagi anak kita yang akan lahir

Dari hari demi hari yang terus berganti

Tiada henti kita menanti-nanti


Last modified: 18/4/08