SUARA PEMBARUAN DAILY

Mak Odah

Oleh Palti R Tamba

Mungkin lima belas tahun mendatang, perempuan itu masih selalu melewati jalan depan rumah kami. Dengan tubuh yang kian ranggas dan langkah yang kian terseok-seok. Mungkin juga tidak. Karena bumi buru-buru menelannya. Entahlah. Tapi kami dibuatnya menyukainya. Ya. Menyukainya.

Perempuan itu, entah pukul berapa berangkat dari rumahnya. Dia muncul dari arah utara. Sesekali, kemunculannya dari arah selatan. Kadang pula dia sudah di jalan sebelah timur. Tentulah semua jalan-jalan di perumahan ini sudah dilaluinya. Namun, dia sering lewat di depan rumah kami malam hari. Dan karena ingin selalu melihat perempuan itu lewat, aku dan suamiku mengabulkan permohonan anak-anak kami untuk tidur malam pukul sembilan. Bila suamiku tidak di rumah atau pulang malam larut, anak-anak kami suka melaporkan esok paginya.

"Dia lewat pukul delapan, Amang...!" kata Naomi.

"Dia pulang cepat, Amang... pukul sembilan...!" kata Natan, adiknya dengan menyodorkan sembilan jari tangannya.

Perempuan itu selalu membawa payung yang digunakannya sebagai tongkat juga. Di bahunya tersampir tas kulit tua. Dia mengenakan kain panjang yang sudah pudar warnanya sebagai penutup kepala. Dan dia selalu berjalan lambat-lambat.

"Pijit, Pak, Bu...!" serunya setengah berteriak, sambil berhenti di depan rumah yang diteriakinya. Ia melemparkan matanya ke pintu rumah di kanan dan di kirinya. Saat menunggu tanggapan dari si pemilik rumah - atau siapa pun yang ada di dalamnya, ia mengisap rokoknya dalam-dalam, lalu mengepulkannya lambat-lambat.

Suamiku baru sekali dipijitnya. Itu pun bukan karena ada "yang salah" di tubuhnya. Tapi karena ke- inginannya untuk berkenalan dengannya. Semula suamiku menyuruh aku dipijitnya. Tapi aku menolak. Anehnya, keinginan itu muncul tiba-tiba saja beberapa saat setelah suamiku dan dia bersua mata.

"Kenapa matanya, Pa?" bisikku di kamar dengan rasa penasaran, sebelum pemijitan dimulai. "Jangan-jangan di situ letak 'pemanis-penglaris'-nya...!"

"Matanya yang menderita, mata yang penuh harap. Tapi ada lagi... yang tak bisa kusampaikan dalam kata-kata.... Tapi jangan berpikir mengenai 'pemanis-penglaris'-nya. Tidak baik memberi kesan tentang orang lain dengan menduga-duga, Ma!" kata suamiku.

Ketika itu, masih hanya tiga rumah yang telah ditempati di sepanjang jalan depan rumah kami. Ada empat rumah sebarisan rumah kami yang telah selesai dibangun. Tapi keempat rumah itu belum ditempati. Sementara lahan-lahan rumah di sekitarnya masih tanah kosong belaka, namun sudah diberi patok-patok kayu yang ujungnya dicat merah. Karena lahan-lahan kosong itu, kami bebas memandang ke jalan sebelah timur, di mana rumah- rumah yang ada sudah ditempati.

Perempuan itu tidaklah pandai memijit. Aku melihat dari caranya mengoleskan balsem ke punggung suamiku, bila kubandingkan dengan ibu mertuaku. Ibu lebih suka menggunakan minyak goreng dicampur bawang putih atau bawang merah.

"Tak ada pekerjaan lain yang dapat kulakukan, Pak, Bu...!" katanya waktu itu.

Sehingga kusimpulkan bahwa perempuan itu memulai profesi baru yang tidak dikuasainya. Aku sungkan menanyakan apa pekerjaan yang ditekuninya sebelumnya. Aku pun sungkan menanyakan apakah dia korban penggusuran atau baru datang dari sebuah kampung sunyi dari sebuah daerah yang jauh.

"Namun kalau dilakukan dengan sepenuh hati pasti berhasil, Mak...!" kata suamiku, memberi dorongan. "Pekerjaan sekecil apa pun bila pekerjaan itu benar, dan dilakukan pula dengan tenaga sendiri, hasilnya memberi kepuasan batin tiada tara, Mak...!"

Tapi kemudian, tiba-tiba suamiku meringis menahan sakit.

"Sa-sakit, Pak...?" tanya perempuan itu dengan gugup sambil cepat-cepat mengendorkan gerakan tangannya di punggung suamiku. Suamiku tak melihat wajahnya. Tapi bisa kubayangkan ia membayangkan ada rasa takut tergambar di muka perempuan itu. Sama seperti yang aku lihat: mukanya tegang dengan kening berkeringat.

"Suami Mak Odah di mana...?" tanya suamiku. Suamiku pastilah dengan sengaja mengalihkan percakapan untuk mencoba membuang rasa cemas perempuan itu.

"Sudah bercerai, Pak...."

"Kenapa, Bu...?" tanyaku.

Aku melihat suamiku melakukan gerakan menggeliat dengan halus. Aku pikir suamiku menahan sakit lagi di punggung karena pijitannya. Tapi perempuan itu (mungkin) tidak menyadarinya. Atau dia berpura-pura tak menyadarinya? Semoga tidak.

"Itulah, Bu.... " Dia menarik napas panjang, tapi gerakan kedua telapak tangannya tetap di punggung suamiku. Lalu mata kami bersua.

"Maksud, Mak Odah...?" suamiku bertanya.

Mataku masih melihat geliat tubuh suamiku yang menahan sakit, maka aku menambahkan, "Santai sajalah, Mak. Bila perlu, besok-besok masih bisa diteruskan lho...."

"I-i-iya, ya...." Perempuan itu mengendorkan kegiatan tangannya, menjadi sekadarnya saja. Suamiku tetap dalam posisi tengkurap. Wajah perempuan itu pun berubah tenang. Lanjutnya, "Dulu, tanah perumahan sepanjang jalan ini hingga ke arah timur itu adalah milik kami, Pak. Pihak perumahan membelinya. Kami menjualnya secara kolektif. Pak Kepala Desa yang melakukan semua urusan proses jual belinya...."

"Begitu...?" suara suamiku, tanpa menoleh. Dagunya beralas bantal dan kedua tangannya terlipat di sisi bantal.

"Tak ada hujan tak ada badai, suami saya tiba-tiba mengajukan cerai. Tak ada pertengkaran di antara kami.... Entahlah. Mungkin sudah takdir saya, Pak, Bu...! 'Kalau memang demikian keinginanmu terserah saja!' kata saya pasrah akhirnya.... Memang saya tak mendengar sedikit pun kebenaran dari alasan yang diungkapkan suami saya, tapi bagaimanalah.... Saya tak bisa apa-apa.... Tak ada tetangga yang membela saya...."

"Kemudian...?" kata saya.

"Suami saya pergi begitu saja, Pak, Bu.... Dan saya mendapat kabar dia menikah dengan janda muda.... Perih hati saya dibuatnya! Lalu, suatu saat saya tanyakan kepada Pak Kepala Desa tentang uang hasil jual tanah kami. Betapa terkejut saya mendengar bahwa suami saya telah menerima uang itu. Padahal sebelumnya, setiap saya tanyakan suami saya tentang uang itu, suami saya selalu mengatakan, 'Kata Pak Kepala Desa belum turun!'."

"Ada bukti bahwa suami Mak Odah telah mengambil uang itu...?" tanya saya.

"Ya, Bu. Pak Kepala Desa menunjukkan kuitansi tanda terima uang disertai tanda tangan suami saya.... Saya pun kelimpungan, Pak, Bu. Uang yang kami peroleh dari pembayaran pertama atas tanah kami itu, sudah habis. Jumlahnya belum seberapa dibanding yang belum dibayarkan. Saya tinggal bersama seorang cucu saya yang perempuan - puteri dari anak perempuan kami. Anak kami satu, Pak, Bu. Anak kami itu ikut suaminya tinggal di Bandung.... Ya, kami tak tahu mau makan apa lagi.... Saya mencoba menjadi tukang cuci-gosok pakaian, tapi saya merasa tak kuat lagi. Saya sempat bekerja sebagai pencari kayu bakar untuk lio. Saya datang ke sini memunguti potongan- potongan kayu yang tidak dipakai tukang-tukang proyek perumahan ini. Saya mesti adu gesit dengan orang-orang lain, Pak, Bu...."

"Siapa orang-orang lain itu?" Aku memotong. "Maksudku, apakah mereka bekas pemilik tanah-tanah perumahan ini juga?"

"Benar, Bu.... Kemudian saya berhenti dan memikir-mikirkan pekerjaan yang bisa saya lakukan. Saya pun memikirkan kebodohan-kebodohan yang kami lakukan pada masa itu. Tapi, itulah... sesal kemudian tak berguna lagi, ya, Pak, Bu...?"

*

KALAU sudah terdengar suara perempuan itu di jalan, suamiku segera menunggunya di teras rumah. Suamiku menyiapkan sebotol air es untuk diminumnya. Bila suamiku tidak di rumah, kedua anak kami yang melakukannya. Sering pula suamiku menyalamkan ke tangannya selembar sepuluh ribuan. Bila suamiku mendapat uang tambahan dari kantor, maka nilai uang yang disalamkan kepadanya bisa lebih.

*

TETAPI telah seminggu ini, aku mengajak perempuan itu tinggal di rumah kami. Tepatnya, sehari setelah suamiku berangkat ke Surabaya dalam rangka tugas dari kantor. Setidak-tidaknya sampai suamiku pulang, maksudku. Supaya ada teman kami di rumah. Kemudian, besoknya, tanpa mengabari terlebih dulu, ibu mertuaku ditemani adik iparku perempuan yang bungsu datang pula dari Raya di Sumatera Utara sana. Adik kami itu tamat SMU tahun lalu, hendak bekerja di Jakarta ini. Di rumah pun ramailah.

*

SEBUAH taksi berhenti di depan rumah. Naomi dan Natan melongok dari jendela sebelum akhirnya menghambur ke luar setelah menyadari bapak mereka pulang.

"Ompung datang, Amang...!" kata Naomi dan Natan berebut, sesaat suamiku turun dari taksi bandara.

"Oya..?!" kata suamiku. Nada suaranya menunjukkan keterkejutannya.

Suamiku mencium kening mereka. Pada saat bersamaan, ia melihat di mulut pintu berdiri aku menggandeng ibu mertuaku dan Mak Odah. Suamiku cepat-cepat memeluk Ibu. Lalu. Heran. Ya, aku pikir suamiku heran karena aku tak mengabari kedatangan Ibu. Ya, aku memang sengaja melakukannya. Membuat kejutan! Karena ibu mertua telah lebih dulu memberi kejutan. Kemudian suamiku mengecup pipiku.

"Dan Mak Odah...," kataku pelan sesaat pipiku usai dikecupnya.

Suamiku mengangguk sembari ter- senyum padanya. Entah perasaan apalagi di hati suamiku. Tapi aku berpura-pura tak memperhatikannya.

"Ini inangudamu.... Sejak kecil terpisah dari keluarga dan tak jelas kabar beritanya. Sudah lama sekali.... Sekarang, kami telah bertemu... di rumahmu, hasian...!" kata ibu mertuaku sembari menggamit kedua pipi suamiku dengan tatapan berkaca-kaca.

Suamiku menatapi Ibu dan Mak Odah bergantian. Dan aku berpura-pura tak memperhatikan juga. *

Cikarang Selatan, Februari 2008

Catatan:

Amang/Inang = ayah/ibu

Inanguda = panggilan untuk adik dari ibu; istri dari adik ayah.

Hasian = sayang


Last modified: 18/4/08