SUARA PEMBARUAN DAILY

Kisah Sepotong Senja di Tepi Pantai

Oleh Isbedy Stiawan ZS

Di tepi pantai ini segala rencana dimulai. Harapan-harapan disusun, kenangan-kenangan dirancang. Tetapi belum satu bulan, layaknya rumahan yang dibangun dari tumpukan pasir pantai, ombak pun menerjang. Luluhlantak. Di tepi pantai itu pula-di tempat pertama keduanya bersepakat-kisah cinta ingin ditamatkan.

"Aku belum berani menanggung risiko," kata si perempuan, usianya 25 tahun lebih beberapa bulan, sambil terisak.

"Setiap keputusan yang kita ambil, kita akan selalu berhadapan dengan risiko-risiko. Begitu pula soal...," si lelaki, yang kini berusia setengah abad, mencoba tenang untuk menjelaskan. Setidaknya memberi motivasi, bahwa hidup ini pun adalah risiko. Ketika kau meninggalkan rumah untuk bekerja, sekolah, atau hanya ingin jalan, risiko-risiko pun terbuka.

"Tapi, risiko dari yang kita lakukan ini sangat berat. Aku tak sanggup menghadapinya...," si perempuan yang sesekali menyebut dirinya Iip itu makin kukuh untuk mengakhiri hubungan cinta kasihnya. "Aku selalu diburu-buru mimpi buruk..."

"Mimpi adalah bunga tidur. Jangan kau yakini kebenarannya..."

"Aku tak meyakini sebagai kebenaran, namun aku meragukan kalau mimpi itu sekadar buah dari ketakutanku," si perempuan makin menegaskan. "Tapi aku tetap mencintaimu, menyayangimu, mengidolakanmu. Sampai kapan pun..."

"Jangan seperti orang yang menebang benih bambu," si lelaki berujar pelan mengamsalkan perempuan itu seperti penebang bambu. Untuk memeroleh rebung ia hilangkan hak hidup cikal bakal bambu. Ia mengatakan tetap dan selalu ada cinta di dalam dirinya kepada si lelaki, namun hak hidupnya ia hilangkan.

Keduanya untuk beberapa jenak diam. Memandang buih ombak yang pecah setiap sampai di pantai. Daun-daun pohon bakau yang menjajar di tepi pantai bergoyang diterpa angin. Seorang lelaki termangu di sebuah gubuk yang sengaja dibangun bagi pengunjung berleha dan bercengkerama: mungkin ia tengah menanti seorang perempuan yang tak juga kunjung.

Di gubuk yang lain, dua ibu muda asyik bercanda: mungkin mereka sedang membincangkan para suaminya, anak-anaknya? Dan sepasang kekasih muda baru menghentikan motornya, lalu nyaris bersamaan merebahkan pantatnya di gubuk itu. Kemudian tertawa. Bercengkerama...

"Entah apa yang ada di dalam benak mereka. Yang jelas mereka seperti bahagia. Tidak seperti kita...," si lelaki kembali bersuara.

"Kita juga pernah seperti mereka. Kita pernah mereguk kebahagiaan."

"Kenapa hanya sebentar?"

"Walaupun sebentar. Kebahagiaan tak mengenal lama atau sekejap. Setidaknya pernah datang, meski kini harus hilang."

"Kau yang menghilangkan."

"Aku terpaksa melakukan itu. Seperti kataku tadi, aku belum sanggup menanggung risiko. Misalnya, tiba-tiba keluargamu marah-marah ke rumahku. Atau...."

"Kau paranoid."

"Aku traumatik."

"Kenapa?"

"Sering menyaksikan orang kedua menjadi tumpuan kesalahan," jawab si perempuan pelan, lalu kembali menangis di dataran dada si lelaki.

"Tidak sering..."

Ah!

Lalu keduanya terdiam lagi.

"Tapi, di sisi lain aku tak mampu menghancurkan semua ini. Aku amat sayang padamu, mencintaimu. Kau banyak mengajarkan padaku..."

"Cinta?"

"Lebih dari itu..."

"Kalau begitu tak perlu kita bunuh. Mari kita sepakat untuk kembali melanjutkannya. Lupakan bayang-bayang ketakutan....," ujar si lelaki seraya mendekatkan bibirnya di telinga si perempuan. "Turunkan parangmu, biarkan rebung tetap menjadi bambu. Kau tahu, bambu telah membuat negeri Tiongkok jadi terkenal sebagai Negeri Tirai Bambu, begitu pula kuharap cinta kita...."

Cinta? Sepertinya si perempuan ingin mengajukan pertanyaan itu. Entah kenapa ia urung. Apakah ia memang mencintai si lelaki karena memang sudah amat lama ia mengaguminya? Ataukah karena rindu kehangatan. "Ah, aku memang mengaguminya, dulu. Kini aku mencintainya..." ia membatin.

"Jujur saja, aku memang sedang mencintaimu. Aku tak bisa melupakan segala yang ada dalam dirimu: wajahmu, senyummu, rambutmu, bahkan sampai cara kau berjalan. Maka setiap kali aku hendak meninggalkanmu lalu teringat wajahmu, aku menangis. Tapi aku tak tahu mengapa aku harus menangis."

Tangan si lelaki kian merapatkan kepala si perempuan ke dalam dadanya. Ia belai rambut berwarna cokelat milik si perempuan. Setiap tetes air yang mengalir dari kedua bola mata si perempuan, ia hapus dengan jemarinya.

"Cinta akan selalu melampaui logika," si lelaki mulai bersuara.

"Itulah yang kukhawatirkan, karena sering tidak realistis. Kita akan bermain-main dalam dunia absurditas. Dalam ranah kemayaan."

"Sebetulnya kita bisa ubah jadi kenyataan, dengan begitu kita masuki dunia logika. Hidup kita tak lagi absurd, kita tak lagi dalam dunia maya..."

"Caranya..."

Si lelaki membisikkan sesuatu. Si perempuan terperangah. Sejenak. Ia kemudian memandangi pecahan ombak setelah mencium bibir pantai.

"Apa yang indah dari pantai?" tiba-tiba si perempuan berujar. "Sampai laut tak pernah letih mencapainya, meski ia harus pecah menghantam pantai."

"Kesetiaan..." desis si lelaki. "Laut begitu setia pada pantai, walau ia harus menerima kenyataan. Ia pecah sebagai buih. Ia jadi korban dari kesetiaannya."

"Aku mengerti ke mana arah perkataanmu," potong si perempuan. "Begitu pula cinta kita? Bukankah begitu maksudmu?"

Si lelaki membiarkan perempuan itu menjawab-setidaknya mencari jawaban-atas pertanyaannya. Bahkan, sesungguhnya pertanyaan itu juga adalah jawaban?

u

Dan senja pun merapuh. Matahari berwarna keemasan terasa tua di mata mereka. Sebentar lagi akan rebah dalam peraduan. Tetapi keduanya, tak ingin membiarkan detik-detik keindahan itu dibiarkan hilang begitu saja. Kata orang, sunset adalah moment paling indah jika kau berada di tepi pantai. Maka itu banyak orang datang ke pantai untuk menikmati matahari senja yang menuju peraduan.

"Apakah aku masih boleh menemuimu esok?"

Si perempuan mengangguk.

"Ke pantai lagi?"

Si perempuan geming.

"Menikmati debur ombak?"

Tak ada anggukan.

"Embusan angin?"

Tetap geming.

"Mendengarkan nyanyian daun saat diterpa angin? Atau menghirup bau asin laut?"

Masih tak ada respons.

"Kau terlelap, ternyata...."

"Mari pulang. Sudah malam!" si lelaki mengingatkan. Entah sudah berapa waktu keduanya membisu di tepi pantai itu. Debur ombak terdengar makin membesar. Tak ada lagi bisikan dari gesekan tangkai bakau saat disergap angin. Pantai makin lenyap ditelan laut pasang.

"Kau masih mau menjemputku, honey?" suara si perempuan membangunkan lamunan si lekaki. "Aku tak mampu dibebani kerinduan..."

Si lelaki mengangguk cepat.

"Aku juga..."

"Kita biarkan seperti air ya, ia mengalir dan terus mengalir, sampai menemukan muara atau lautan..."

"Apa itu?"

Si perempuan hanya tersenyum. Senyumnya, aduhai, laksana buah yang masih ranum. Buah itu bernama anggur. Kau suka?

"Beri aku pisau. Kasih aku bibir..."

"Tapi kita sudah berada di gigir. Kau lihat di sana ada jurang yang amat curam!"

"Jangan khawatir. Kita tak akan terpeleset," si lelaki memberi semangat. Lalu keduanya menuruni hamparan es: bersky. Sampai tuju yang mana?

Bandar Lampung, 19-22 November 2007


Last modified: 4/4/08